teman berproses

Hustle Culture

Hustle Culture itu baik atau buruk ya?

Pernah mendengar istilah tentang hustle culture? Jika belum, apakah Teman Berproses pernah mendengar kalimat seperti ini “mumpung masih muda harus banyakin kegiatan!” atau “apply magang kemana lagi ya, pengalaman di CV ku masih kurang disbanding dia” ?

hal-hal tersebut ternyata termasuk Hustle Culture loh!

Mari Kita cari tahu Hustle Culture itu apa sih?

Dikutip dari laman Kementerian Ketenagakerjaan, hustle culture adalah standar di masyarakat yang menganggap bahwa hanya bisa mencapai sukses kalau benar-benar mendedikasikan hidup untuk pekerjaan dan bekerja sekeras-kerasnya hingga menempatkan pekerjaan di atas segalanya.

Jika dilihat dari luar, budaya ini tampak seperti gerakan motivasi berenergi tinggi yang datang dengan imbalan yang diharapkan. Padahal hustle culture adalah perlahan tapi pasti akan mempengaruhi kesehatan dan mental. Fenomena hustle culture cukup umum terjadi, dan ini tidak hanya dirasakan oleh pekerja saja. Namun, budaya ini bisa bermula saat seseorang masih menjadi mahasiswa atau bahkan siswa sekolah.

Jika Teman Berproses ingat, mungkin ada satu atau dua teman semasa SMA yang mengikuti banyak ekstrakulikuler dan ikut banyak organisasi. Di luar itu, orang tua juga meminta mereka untuk ikut bimbingan belajar, les bahasa asing, dan semacamnya. Jadi bisa dikatakan, mereka memiliki jadwal yang sangat sibuk. Sementara mahasiswa, umumnya mereka ikut banyak organisasi kampus atau ekstrakulikuler. Kemudian pada semester akhir, mereka melakukan magang sambil tetap bekerja keras untuk menyelesaikan studi mereka di kampus.

Umumnya, siswa atau mahasiswa yang ikut banyak kegiatan dan organisasi biasanya melakukan hustle culture untuk memperluas jaringan mereka, memperkaya pengalaman, dan menambah pengetahuan mereka demi kesuksesan di masa depan. Hal itu penting, tetapi sebenarnya mereka lupa bahwa masa-masa sekolah tidak akan terulang lagi.Sehingga alangkah lebih baik jika mereka juga tetap menikmati masa-masa muda mereka untuk mencari teman dan menikmati hidup tanpa banyak tanggung jawab seperti orang dewasa.

Dampak Hustle Culture

Dengan semakin banyaknya orang yang bercita-cita untuk menjadi sukses, kerja keras dan berlebihan menjadi sangat diagungkan, terutama di media sosial. Tokoh-tokoh seperti Elon Musk yang membagikan bagaimana ia menjadi jutawan mandiri semakin mengembangkan pola pikir di masyarakat di mana anak muda harus bekerja keras tanpa henti untuk menjadi orang yang sukses.

Menurut artikel yang ditulis di Forbes, apa itu hustle culture justru lebih merugikan alih-alih memberikan manfaat. Pada tahun 2019, orang Amerika Serikat mencapai rekor tingkat stres, kecemasan, dan kemarahan tertinggi yaitu 55%. Angka tersebut 20% ​​lebih tinggi dari angka rata-rata global. Hal ini disebabkan oleh di mana mereka bekerja terlalu keras sehingga kesehatan mental dan fisik mereka menjadi lemah. Mengadopsi budaya hustle culture ini bisa menghasilkan daya saing yang beracun dan dampak buruk lainnya. Berikut ini adalah beberapa dampak buruk hustle culture yang bisa kamu rasakan:

·         stres berlebih

·         burnout

·         terkena penyakit fisik

·         tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi

·         dan lain-lain.

Cara Menghindari Hustle Culture

1.       Mengubah pola pikir apa itu hustle culture

Setelah mengetahui apa itu hustle culture, hal berikutnya yang perlu kamu lakukan adalah mengubah pola pikir. Sadari bahwa kamu bekerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja. Jangan habiskan waktumu selalu bekerja. Namun, jangan juga terlalu berleha-leha. Cari keseimbangan di antara keduanya.

 2.       Perjelas tujuan hidupmu

Jika kamu sudah berada di tengah-tengah hustle culture, ambil satu langkah ke belakang untuk memperjelas tujuan hidupmu. Terkadang lebih baik mengambil satu langkah ke belakang sehingga kamu dapat mengambil dua langkah ke depan.

Ketika kamu tahu apa yang sedang kamu kerjakan dan mengapa kamu mengerjakannya, kamu bisa membuang segala bentuk distraksi dan fokus pada tujuanmu. Jadi, kamu tidak semata-mata bekerja dan terjebak dalam apa itu hustle culture.

3.       Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain

Salah satu faktor yang membuatmu terjebak dalam apa itu hustle culture adalah kesuksesan orang lain yang tampak indah di depan matamu. Terutama yang muncul di sosial media. Tenang. Apa yang kamu lihat belum seindah kenyataannya. Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain karena akan ada juga saatnya kamu menuai kesuksesan.

4.       Bekerja keras, istirahat keras

Istirahat adalah bagian penting dari kerja keras. Jika kamu mengabaikan kesehatan fisik dan mentalmu, semua kerja kerasmu akan menjadi sia-sia. Dalam olahraga, istirahat adalah waktu di mana otot berkembang, bukan pada saat berlatih. Begitu pula dengan kamu. Luangkan waktu untuk beristirahat dan berhenti bekerja jika kamu sudah merasa lelah.

5.       Melambatlah untuk sejenak

Tuntuntan untuk menjadi serba cepat di dunia yang serba digital ini semakin tinggi. Namun, jangan terjebak dalam apa itu hustle culture. Cobalah untuk melambat sedikit saja.

Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang mindful. Bangun tidur tanpa melihat telepon genggam, nikmati sarapan dengan tenang, jadwalkan waktu untuk perawatan diri, atau sepenuhnya hadir bersama orang yang kamu sayangi.

 6.       Tingkatkan kualitas kerja bukan kuantitas

Seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, semakin lama kamu bekerja tidak menjamin semakin baik hasilnya. Justru sebaliknya dari apa itu hustle culture. Maksimalkan waktu kerjamu sehingga kamu bisa bekerja dengan lebih fokus dalam waktu yang lebih sedikit.

Leave a Comment

Your email address will not be published.